Puasa rajab
play.google.com

Bulan Rajab ialah salah satu bulan mulia dan terhormat yang terletak diantara bulan Jumadil Akhir dan bulan Sya’ban, yang mana ketika bulan tersebut terdapat amalan-amalan utama yang mulia.

Sebagaimana bulan Muharram, bulan Rajab juga termasuk dari bagian bulan haram.

Kenapa sih kira-kira bulan tersebut bisa dimuliakan dari bulan lainnya?

Karena pada saat itu adalah waktu yang sangat baik untuk melakukan amalan-amalan salih dan ketaatan, yang sampai-sampai para salafus salih terdahulu sangat suka untuk melakukan ibadah puasa pada bulan tersebut.

Tentunya, selain melakukan amalan wajib harian yang setiap harinya kita lakukan, supaya dapat lebih bermakna, ada baiknya bagi kita mencoba supaya bisa lebih meningkatkan ibadah-ibadah yang lainnya.

Namun, tidak boleh dihiraukan pula untuk tetap mengikuti ajaran dan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang mana kita harus lebih berhati-hati untuk melakukan ibadah-ibadah kepada-Nya.

Sebagaimana yang telah disebutkan di dalam usul fiqh yang berlandaskan dari hadist,

“Al ashlu fil ibadati haromun illa ma dalla dalilu ála fii ihi”, yang kurang lebih maknannya adalah, asal dari ibadah itu sebenarnya adalah haram atau terlarang, kecuali ada dalil yang menunjukan perintah untuk mengerjakannya.

Nah, berikut beberapa ada ibadah dan amalan-amalan yang perlu ditingkatkan, dan diperhatikan pula ketika bulan Rajab tiba, diantaranya:

 

Dilarang Mengkhususkan Shalat Tertentu, Misalnya Shalat Roghoib

shalat berjamaah
dailymoslem.com

Sebenarnya tidak ada satu shalat pun yang dikhususkan ketika bulan Rajab tiba. Terlebih, juga tidak ada anjuran untuk melaksanakan shalat Roghoib pada bulan Rajab tersebut.

Shalat Roghoib, atau yang biasa disebut juga  dengan shalat Rajab adalah shalat yang dilakukan pada malam Jum’at pertama di bulan Rajab, yang tepatnya berada diantara shalat Maghrib dan Isya.

Begitu pula pada siang hari sebelum pelaksanaan shalat Roghoib yang bertepatan pada hari kamis pertama di bulan Rajab, sebagaimana yang dianjurkan untuk melaksanakan puasa sunnah.

Seluruh jumlah raka’at dari shalat Roghoib adalah 12 raka’at, yang mana di setiap raka’atnya dianjurkan untuk membaca surat Al Fatihah satu kali, surat Al Qadr sebanyak 3 kali, serta surat Al Ikhlash sebanyak 12 kali.

Kemudian, setelah selesai melaksanaan shalat tersebut, dianjurkan pula untuk membaca shalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebanyak 70 kali.

Demikian pula yang disebutkan, diantara keistimewaan atau keutamaan memebaca shalawat kepada Nabi adalah dihapuskan seluruh dosa-dosanya yang telah lalu.

Walaupun sekiranya dosa seorang hamba sebanyak buih-buih di lautan, Allah subhanahu wa ta’ala akan mengampuninya, serta akan memberi syafa’at untuk 700 kerabatnya.

Namun perlu diperhatikan pula, hadits yang menerangkan tentang tata cara shalat Roghoib dan keutamaannya adalah hadits maudhu’ atau palsu.


Sebagaimana Ibnul Jauzi rahimahullah yang meriwayatkan hadits ini di dalam Al Mawdhu’aat, yakni kitab tentang hadits-hadits palsu. Beliau mengatakan,

“Sungguh, orang  yang telah membuat bid’ah dengan membawakan hadits palsu ini sehingga menjadi motivator bagi orang-orang untuk melakukan shalat Roghoib dengan sebelumnya melakukan puasa, padahal siang hari pasti terasa begitu panas.

Namun ketika berbuka mereka tidak mampu untuk makan banyak. Setelah itu mereka harus melaksanakan shalat Maghrib lalu dilanjutkan dengan melaksanakan shalat Raghaib.

Padahal dalam shalat Raghaib, bacaannya tasbih begitu lama, begitu pula dengan sujudnya. Sungguh orang-orang begitu susah ketika itu.

Sesungguhnya aku melihat mereka di bulan Ramadhan dan tatkala mereka melaksanakan shalat tarawih, kok tidak bersemangat seperti melaksanakan shalat roghoib ini

Sebagaimana shalat ini di kalangan awam begitu penting, sampai-sampai orang yang biasa tidak hadir shalat jama’ah pun ikut melaksanakannya.” [Al Mawdhu’aat li Ibnil Jauziy, 2/125-126]


Seperti yang disebutkan dalam konteks yang lain,

Shalat Roghoib ini pertama kali dilaksanakan di Baitul Maqdis, setelah 480 Hijriyah dan tidak ada seorang pun yang pernah melakukan shalat ini sebelumnya. [Al Bida’ Al Hawliyah, 242]

Salah seorang tokoh ulama Malikiyah yang berasal dari kota Qurthubah, yaitu Ath Thurthusi mengatakan,

“Tidak ada satu riwayat yang menjelaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat ini.

Shalat ini juga tidak pernah dilakukan oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum, para tabi’in, dan salafush sholeh –semoga rahmat Allah pada mereka-.” [Al Hawadits wal Bida’, hal. 122. Dinukil dari Al Bida’ Al Hawliyah, 242]

Kesimpulannya adalah, shalat Roghoib adalah shalat yang tidak ada tuntunannya sama sekali, dan tidak pula sekalipun diajarkan oleh Nabi dan para sahabatnya.

Karena sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuk yang berasal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Mengkhususkan Berpuasa Pada Bulan Rajab

Puasa
pinterest.com

Sebagaimana yang disebutkan di dalam hadist yang lain tentang keutamaan berpuasa, yang mana balasan atau ganjaran dari amalan berpuasa ialah hanya berasal dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Salah seorang syaikhul islam Ibnu Taimiyah mengatakan, yang kurang lebih maknanya seperti ini..

“Adapun mengkhususkan bulan Rajab dan Sya’ban untuk melakukan amalan puasa pada seluruh harinya atau beri’tikaf pada waktu tersebut, maka tidak ada tuntunannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat mengenai hal ini.

Apalagi hal ini juga tidaklah dianjurkan oleh para ulama kaum muslimin.

Bahkan, adapula riwayat yang terdapat dalam hadits yang shahih, yakni riwayat Bukhari dan Muslim yang menjelaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa untuk banyak berpuasa pada bulan Sya’ban.

Dan Beliau dalam setahun tidaklah pernah banyak berpuasa dalam satu bulan yang lebih banyak dari bulan Sya’ban, jikalau hal ini dibandingkan dengan bulan Ramadhan.

Adapun melakukan puasa khusus pada bulan Rajab, maka sebenarnya itu semua adalah berdasarkan hadits yang seluruhnya dho’if yang maknanya lemah, bahkan ada pula yang  maudhu’ atau palsu.

Para ulama tidaklah pernah menjadikan hadits-hadits ini sebagai sandaran.

Terlebih hadits-hadits yang menjelaskan keutamaannya adalah hadits yang maudhu’ atau palsu dan dusta.” [Majmu’ Al Fatawa, 25/290-291]


Bahkan, telah dicontohkan pula oleh para sahabat bahwa mereka melarang untuk berpuasa pada seluruh hari yang ada di bulan Rajab.

Mengapa? Karena ditakutkan akan menyamai puasa yang ada pada bulan Ramadhan, sebagaimana hal inilah yang pernah dicontohkan oleh salah seorang sahabat, yakni Umar bin Khottob.

Ketika bulan Rajab tiba, ‘Umar pernah memaksa seseorang untuk makan atau tidak berpuasa, lalu beliau mengatakan,

“Janganlah engkau menyamakan puasa di bulan ini (bulan Rajab) dengan bulan Ramadhan.” [Riwayat ini disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Al Fatawa, 25/290] dan beliau mengatakannya bahwa hadistnya adalah shahih.

Begitu pula riwayat ini dikatakan bahwa sanadnya shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Irwa’ul Gholil.


Adapun perintah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah untuk berpuasa di bulan-bulan haram yaitu bulan Rajab, Dzulqo’dah, Dzulhijjah, dan Muharram.

Dari konteks perintah tersebut dapat disimpulkan bahwa, hal ini adalah suatu perintah untuk berpuasa pada empat bulan tersebut, dan Beliau tidak mengkhususkan untuk berpuasa pada bulan Rajab saja. [Makna Majmu’ Al Fatawa, 25/291]

Salah seorang ulama besar yaitu Imam Ahmad juga mengatakan,

“Sebaiknya seseorang tidak berpuasa (pada bulan Rajab) satu atau dua hari.”

Begitupula yang dipaparkan oleh Imam Asy Syafi’i, ia mengatakan,

“Aku tidak suka jika ada orang yang menjadikan menyempurnakan puasa satu bulan penuh sebagaimana puasa di bulan Ramadhan.”

Beliau berdalil dengan hadits-nya Aisyah, yaitu Aisyah tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa sebulan penuh pada bulan-bulan lainnya, sebagaimana beliau menyempurnakan berpuasa sebulan penuh pada bulan Ramadhan. [Latho-if Ma’arif, 215]

Singkatnnya, kita diperbolehkan untuk melakukan amalan puasa di bulan Rajab.

Namun, apabila kita melaksanakan puasanya secara penuh pada bulan tersebut, maka hukumnya adalah terlarang jika memenuhi dua poin berikut ini:

  • Takut akan salah paham jika dikhususkan berpuasa penuh pada bulan tersebut. Karena tidak seperti bulan lainnya, sehingga orang-orang awam dapat menganggapnya sama seperti puasa Ramadhan.
  • Menganggap bahwa puasa di bulan tersebut adalah puasa yang dikhususkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam., sebagaimana sunnah rawatib atau sunnah yang mengiringi amalan-amalan yang wajib.

 

Meningkatkan Amalan Dzikir

Berdzikir
sifaloveshijab.com

Beberapa amalan yang sudah umum di kalangan masyarakat ketika memasuki permulaan bulan rajab adalah, membaca doa awal bulan rajab, menunaikan puasa sunnah-nya, serta melaksanakan sholat sunnah tasbih.

Selain itu, adapula amalan lainnya, yaitu amalan seperti wirid, dzikir dan doa selama bulan rajab.

Misalkan kita bisa mengamalkannya yaitu dengan cara memperbanyak shalawat kepada Nabi, wirid, dan bacaan dzikir.

Berikut adalah beberapa amalan yang bisa dilakukan, dan doa selama bulan rajab yang dapat dikerjakan:


Membaca Sholawat, Wirid, dan Dzikir Selama Bulan Rajab

Dengan membaca dzikir pula hati kita akan lebih tenang dan nyaman daripada tidak melakukannya.

Berikut adalah beberapa bacaan dzikir yang dapat diamalkan selama bulan rajab berlangsung.

Membacanya 100x minimal setelah sholat fardhu, adapun untuk bacaannya berbeda pula disetiap sepuluh harinya.

  • Tanggal 1-10 Rajab: Subhanallahu Hayyul Qoyyuumu [100x]
  • Tanggal 11-20 Rajab: Subhanallahi Ahadish-Shomad [100x]
  • Tanggal 21-30 Rajab: Subhanallahu Rouufu [100x]

 

Amalan Setelah Shalat Selama Bulan Rajab

Check Out Another Our Awesome Picture at iNewbiee
Check Out Another Our Awesome Picture at iNewbiee

Setidaknya untuk memperbanyak amalan kita pada bulan yang mulia tersebut, bisa pula dengan menambahkan bacaan atau amalannya.

Berikut bacaan yang bisa dibaca setelah selesai shalat magrib maupun shalat subuh selama menjelang bulan rajab.

  • Setelah Sholat Subuh: Robbighfirlii Warhamnii Watun ‘Alayya [70x]
  • Sholat Magrib: Robbighfirlii Warhamnii Watun ‘Alayya [70x] yang kemudian dilanjutkan dengan membaca Al-Qur’an, yakni Surat Al-Ikhlas sebanyak 12x.

Sebagaimana banyak pula yang tersebar di tengah-tengah kaum muslimin, ada sebuah riwayat dari Anas bin Malik. Beliau mengatakan,

“Ketika tiba bulan Rajab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengucapkan,

“Allahumma baarik lanaa fii Rojab wa Sya’ban wa ballignaa Romadhon”-

Artinya, ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan perjumpakanlah kami dengan bulan Ramadhan”.

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya, Ibnu Suniy dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah.

Namun perlu diketahui pula bahwa hadits ini adalah hadits yang lemahkarena di dalamnya ada perowi yang bernama Zaidah bin Abi Ar Ruqod.

Ia adalah seorang munkarul hadits yang mana banyak keliru dalam meriwayatkan hadits, sehingga hadits ini termasuk hadits dho’if.

Demikian sedikit pembahasan Newbiee mengenai amalan-amalan utama yang ada di bulan Rajab dan beberapa amalan keliru yang ada pada bulan tersebut, sekian.

LEAVE A REPLY